Aku mencintaimu. Ijinkan aku pergi selamanya.

Relakanlah. Perempuanku, jika engkau percaya lelakimu ini sebagai pemimpinmu. Percayalah dengan keputusanku ini."

Lalu lelaki itu beranjak meninggalkan rumah tanpa berpaling. Kekasihnya hanya menatap mengantarkan kepergiannya dari muka pintu. Airmatanya menetes.

Tiga hari berikutnya ia mendapat kabar lelaki kekasihnya itu telah meninggal. Ia tertangkap dalam upaya pemberontakan gagal. Sebutir peluru mengakhiri perjuangan yang dipercayainya. Sekarang ia sendiri. Hidup harus tetap berjalan meski terkadang sangat sulit menghapus kenangan. Apalagi jika tentang hati dan cinta.

Empat bulan kemudian, sama seperti manusia lainnya, perempuan itu telah melupakan kedukaan. Ia memulai berhubungan dengan lelaki yang lain.

Seorang petani. Dengan prinsip sederhana tentang hidup diantara rimbunan pepohonan dan air terjun yang mengucur deras.

Disitu pula perempuan itu hidup dalam sebuah ikatan pernikahan resmi. Bagi perempuan itu, inilah awal bahagianya kembali.

Namun nasib dan takdir terkadang memiliki rencananya sendiri. Suaminya, petani itu, juga meninggal. Penyakit berat yang diidapnya menyerang mendadak dan melumpuhkan semua urat sarafnya. Sekali lagi kedukaan hadir.

Dalam kesunyian hati, perempuan itu lalu berpindah ke kota kembali. Ia tidak ingin hatinya yang telah sepi semakin sepi dengan hanya desiran pepohonan dan suara air. Keputusan pindah kembali kekota seolah sebuah pilihan masuk akal.

Setahun berlalu. Perempuan itu telah mengenal kembali seorang lelaki. Sorot matanya tajam. Mengenakan kemeja rapi dengan rambut yang selalu nampak basah.

Lelaki itu memberikan bungkusan kembang dan sebuah cincin. "Menikahlah denganku. Dan biarkan aku mengabdikan hidup ini untukmu. Engkau segalanya untukku." Perempuan itu mengangguk dan kemudian mereka menikah. Segalanya berjalan cepat.

Secepat sebuah tamparan keras yang mendarat di pipinya. Lelaki itu ternyata seorang pemarah. Hilang sudah semua kata manis yang dulu pernah terucapkan berganti dengan cacian dan makian mulai dari perempuan sundal dan istri tidak tidak berguna.

Berbulan perempuan itu mencoba meredam segalanya. Namun ia gagal. Hingga akhirnya keputusannya telah bulat. Ia akan memberontak kepada suaminya. Sebuah pisau dipilihnya. Ditusukkan ke wajah suaminya yang kemudian menggelapar meninggal. Kini ia tahu kenapa kekasihnya dulu memberontak. Ketidakadilan dan kesewenangan pada akhirnya membuat ia menjadi pemberontak.

(2016)

Learn more