"Sabarlah. Tunggu banjir ini menyurut lalu engkau boleh keluar dari mobil ini. Usai sudah cinta kita," kata lelaki itu dengan lembut.
 
Perempuan itu memukul pintu mobil dengan frustrasi. Ia sudah tidak ingin dalam mobil ini, apalagi semobil dengan lelaki yang tidak lagi dicintainya beberapa menit lalu. 
 
"Tapi aku ingin kamu diam. Jangan bicara apapun. Paham?" katanya dengan kasar.
 
Lelaki itu mengangguk lemah. Matanya menerawang menatap jalan berkelip dengan lalu lintas yang macet total ditengah genangan air Jakarta.
 
Segalanya saat itu seolah memang indah. Kekasihnya adalah ia. Ia adalah kekasihnya. Tidak terpisahkan. Melebur satu dalam lingkaran suci cinta.
 
"Aku lapar. Tidak adakah makanan dalam mobil ini yang bisa aku makan?" tanya kekasihnya membuyarkan lamunannya.
 
Lelaki itu menggeleng lemah. Ia mencoba meraih tangan kekasihnya namun ditepis dengan kasar.
 
"Diam. Jangan bergerak," ucapnya hampir setengah menjerit.
 
Segalanya telah berubah. Alunan musik romatis dari sebuah radio yang terus memancar tidak lagi mampu melunakkan hati.
 
Sesekali suara klakson mobil semakin membuat frustrasi kekasihnya. Tangannya yang lentik bergerak tidak beraturan memutar tombol radio lalu menggebraknya dengan keras tiba-tiba. 
 
Lelaki itu hanya terdiam. Menatapnya dengan lembut. "Maafkan aku," katanya pelan.
 
"Diam. Aku sudah menyuruhmu diam. Diam. Bisa tidak? Baik. Kamu mau bicara? Baik. Jawab pertanyaanku. Kenapa banjir ini tidak surut? Kapan surutnya? Mengapa terus berulang dan berulang? Kamu tidak bisa menjawab? Bagaimana aku harus mencintai lelaki bodoh dan tidak bertanggung jawab seperti dirimu? Jangan. Jangan pasang senyum tidak berdosa itu. Ini adalah dosamu. Tahukah engkau ada berapa ratus keluarga yang menderita akibat banjir ini. Akibat ulahmu. Iyah kamu. Jangan salahkan alam. Semesta ini telah memberi banyak pada kita," cerca kekasihnya.
Lelaki itu menghela nafas panjang. Ia sendiri tidak pernah tahu, mengapa saat banjir mulai datang memenuhi jalanan tadi, kekasihnya mulai merancau tidak karuan menyalahkan dirinya penyebab segalanya dan lalu memutuskan untuk berpisah dengannya. Ia tidak tahu.
 
"Mengapa engkau.."
 
Belum selesai lelaki itu menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh kekasihnya.
 
"Diam. Diam kataku."
 
Hujan terlihat turun lagi dengan derasnya. Lalu lintas belum bergerak demikian banjir ini mungkin akan semakin lama menyurut. 
 
"Diam."
 
(2016)

Jalan sore melihat mulai begitu banyak driver ojek online melintas. 

Saya tiba-tiba berpikir bagaimana jika usaha ini kolaps ditingkat nasional? Bagaimana jika mereka semakin besar dan besar dengan jutaan mitra? 

Kelak, mungkin dalam lima tahun mendatang, jika tidak ditangani dengan ketentuan aturan yang tepat dan pengawasan yang baik oleh Pemerintah Pusat, ini akan menjadi *masalah sosial* yang besar bagi bangsa ini. Semoga saja itu tidak terjadi.

Namun bukan itu yang membuat saya cemas. Saya hanya menjadi berpikir bagaimana caranya di sebuah kota kecil seperti Mojokerto misalkan, akan bangkit pesat perekonomiannya? 

Saya lalu membayangkan jika saja tumbuh tunas-tunas startup baru di Mojokerto dengan ide segar seperti Gojek atau usaha online lainnya ini akan menjadi salah satu solusi penyerapan tenaga kerja.

Tapi Bagaimana caranya? Mendorong agar anak-anak muda ini berinovasi daripada sibuk menulis lamaran pada perusahaan di Kota Mojokerto yang sudah sangat kecil kemungkinannya menerima pegawai baru.

Lalu saya teringat tentang co working space. Sebuah ruang untuk bekerja. Kementerian telah memulai proyek ini kemudian ditiru oleh Pemerintah Surabaya.

Sebuah ruang, tempat anak muda kita bisa berkumpul bersama dengan fasilitas perkantoran lengkap misalkan meja kursi kerja dan ruang pertemuan. 

Belum lagi terdapat peralatan tempur kerja seperti komputer dan WIFi didukung oleh instruktur pembimbing tentang apa itu startup.

Dengan adanya co working space ini akan memudahkan mengorganisasi serta membina bagi Pemerintah Kota Mojokerto dalam rangka upaya mendorong pertumbuhan startup baru agar terlahir.

Bagi anak-anak muda itu, tempat ini akan bisa menjadi alamat kantor mereka memulai kerja diawal. Kita semua tahu bagaimana mahalnya menyewa tempat kerja sebagai kantor sementara.

Selain itu bagi anak muda itu, ruang itu akan menjadi tempat bertemu dengan para pengusaha pemodal, tempat rapat dan bekerja dengan tenang serta masih banyak lagi.

Apakah akan memakan biaya besar? Tidak. 

Ini hanya membutuhkan sebuah tempat kosong atau bekas kantor yang sudah tidak ditempati lalu disulap sana sini jadi sebuah co working space yang nyaman. 

Mungkin kita akan menjadi kota ketiga yang memiliki fasilitas bagi anak muda ini jika  jadi terbangun.

Bagaimana mimpi ini bisa terwujud? 

Mungkin sebuah perintah dari sebuah aturan semacam pembentukan Perda baru yang sederhana tentang Pengaturan Peningkatan Penempatan Ketenagakerjaan akan menjadi solusinya bagi upaya dalam penyerapan tenaga kerja.

Tidak ada yang tidak mungkin memang. Saya jadi teringat tentang Gedung Rumah Susun Bagi Pekerja Buruh dulu. Semua hanya berawal dari sebuah secarik kertas pemberitahuan dari Kementerian tentang adanya penawaran pembangunan rumah pekerja.

Matahari mulai terbenam. Saya berhenti pada sebuah warung dan menikmati secangkir kopi. Disebelah saya seorang driver ojek online bergegas berdiri menyambut datangnya panggilan order dengan wajah ceria. Selamat bekerja.

sebuah catatan ketenagakerjaan